icon donasi
Program
icon zakat
Zakat
sedekah lazismu icon mobile
Infaq
icon qurban
Qurban
inilah sejarah puasa ramadhan yang jarang di ketahui (9)

Strategi Meraih Lailatul Qadar di 10 Malam Terakhir Ramadan

LAZISMUPATI.ORG —Ramadan kini telah memasuki babak final. Kita sudah menapakkan kaki di sepuluh malam terakhir, fase yang paling krusial sekaligus penuh dengan limpahan rahmat. Jika kita mengibaratkan Ramadan sebagai sebuah perlombaan lari maraton, maka sekaranglah saatnya kita melihat garis finis di depan mata.

Pertanyaannya: Apakah kita akan melambat karena lelah, atau justru mengerahkan seluruh sisa tenaga untuk menjadi pemenang?

Seorang pelari profesional akan memberikan “sprint” terbaiknya di detik-detik terakhir. Begitu pula seharusnya kita dalam beribadah. Jangan sampai semangat yang membara di awal bulan justru padam saat mendekati penghujung cerita.

Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan

Mengapa sepuluh hari terakhir ini begitu istimewa? Jawabannya ada pada satu malam yang kemuliaannya tak tertandingi: Lailatul Qadar.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadr. Dan tahukah kamu apakah malam Lailatul Qadr itu? Malam Lailatul Qadr itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1-3)

Bayangkan, beribadah di satu malam ini nilainya setara dengan beribadah selama lebih dari 83 tahun. Itulah mengapa Rasulullah saw. memberikan instruksi khusus kepada umatnya:

“Carilah Lailatul Qadr di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Meneladani “Ikat Pinggang” Rasulullah saw.

Bagaimana cara terbaik mengisi malam-malam berharga ini? Mari kita tengok bagaimana keseharian Rasulullah saw. di penghujung Ramadan. Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan:

“Adalah Rasulullah saw. ketika memasuki sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh dalam ibadah, dan mengencangkan ikat pinggangnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Istilah “mengencangkan ikat pinggang” adalah kiasan betapa beliau meninggalkan kesenangan duniawi dan fokus total pada penghambaan kepada Allah. Beliau tidak hanya saleh sendirian, tapi juga mengajak keluarganya untuk bersama-sama menjemput rida-Nya.

Tips Maksimalkan Sepuluh Hari Terakhir

Agar kita tidak kehilangan momentum emas ini, berikut beberapa langkah praktis yang bisa kita lakukan:

  1. Tingkatkan Kualitas Ibadah: Perpanjang durasi salat malam (Qiyamul Lail), perdalam tadarus Al-Qur’an, dan perbanyak zikir.
  2. Dawamkan Doa Pengampunan: Rasulullah saw. mengajarkan satu doa singkat namun padat makna untuk dibaca di malam-malam ini:اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي (Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii) Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.”
  3. Waspada “Pencuri Waktu”: Ini adalah poin yang sering kita lupakan. Di akhir Ramadan, godaan untuk sibuk dengan persiapan Idulfitri atau sekadar scrolling media sosial sangatlah besar. Ingat, Ramadan terlalu berharga untuk dihabiskan demi konten yang tidak bermanfaat. Media sosial bisa menjadi pencuri waktu terbesar kita jika tidak dibatasi.

Disampaikan oleh : Muhammad DN, SAg, MHI, Ketua PDM Hulu Sungai Tengah, Kalsel melalui suaramuhammadiyah.id

Salurkan zakat dan infak Sobat Lazismu melalui www.lazismupati.org

Share :